Workshop Ekonomi Karbon Dorong Sumsel Tancap Gas Menuju Transisi Energi Berkeadilan.

  • Bagikan
banner 468x60
Workshop Ekonomi Karbon Dorong Sumsel Tancap Gas Menuju Transisi Energi Berkeadilan. (8/1/2026)

PALEMBANG, KNC.– Upaya percepatan transisi energi berkeadilan dan penguatan ekonomi hijau di Sumatera Selatan kembali diperkuat melalui Workshop Nilai Ekonomi Karbon dalam Kerangka Transisi Energi Berkeadilan dan Transformasi Ekonomi. Kegiatan ini digelar di Fave Hotel Palembang, Kamis (8/1/2026).

Workshop tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, perusahaan swasta, organisasi non-pemerintah, akademisi, hingga pelaku dunia usaha. Forum ini menjadi wadah diskusi sekaligus pembelajaran bersama mengenai peluang, tantangan, dan mekanisme pengembangan proyek karbon sebagai salah satu solusi menghadapi krisis iklim.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau sekaligus Koordinator Proyek Climate Action Network Indonesia dalam IKI-JET Project, Dicky Edwin Hindarto, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai pelatihan intensif untuk membuka pemahaman peserta terkait besarnya potensi proyek-proyek karbon di Sumatera Selatan.

Example 300x600

Menurutnya, Sumsel sejatinya telah memiliki pengalaman awal dalam upaya penurunan emisi, salah satunya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 MW pada masa kepemimpinan gubernur sebelumnya. Namun, pemahaman mengenai mekanisme pasar karbon dan nilai ekonominya masih perlu diperluas.

“Peluang proyek pengurangan emisi di Sumsel sangat besar, mulai dari energi terbarukan, efisiensi energi industri, perlindungan kawasan hutan, hingga pengembangan mangrove. Tantangannya, belum semua pihak memahami cara kerja proyek karbon dan bagaimana nilai ekonominya dapat dimanfaatkan melalui pasar karbon,” jelas Dicky.

Ia menambahkan, pasar karbon merupakan skema pembiayaan yang kini berkembang secara global. Melalui mekanisme ini, pengurangan atau pencegahan emisi gas rumah kaca dapat dikonversi menjadi kredit karbon yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diperdagangkan layaknya komoditas.

Beberapa contoh proyek yang dinilai relevan diterapkan di Sumsel antara lain pengembangan PLTS, pemanfaatan gas untuk bahan bakar transportasi, serta peningkatan efisiensi energi di industri, khususnya pabrik karet yang banyak beroperasi di wilayah ini.

Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa pengembangan proyek karbon memerlukan perencanaan matang, dukungan modal, organisasi profesional, keahlian teknis, serta komitmen jangka panjang agar dapat memenuhi standar dan diakui di pasar karbon.

Sementara itu, Ketua Forum CSR Sumsel, Dr Hadi Prayogo, M.I.Kom., menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menekan emisi gas rumah kaca. Ia mengapresiasi sinergi dengan Yayasan Mitra Hijau yang telah membuka ruang edukasi bagi perusahaan-perusahaan di Sumsel terkait nilai strategis ekonomi karbon.

“Workshop ini sangat penting, bukan hanya untuk Sumsel, tetapi juga secara global. Dampak perubahan iklim semakin nyata akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mendorong perusahaan agar lebih peduli dan berkontribusi nyata dalam upaya penurunan emisi,” ujar Hadi.

Ia menambahkan, Forum CSR Sumsel berkomitmen mengajak para anggotanya, mulai dari BUMN, GAPKI, Aprindo, hingga pelaku usaha lainnya, agar semakin aktif dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.

Selain itu, Forum CSR Sumsel juga menjalin kolaborasi dengan Bappeda Sumsel, Yayasan Mitra Hijau, Bhakti Persada Masyarakat Sumsel, serta media massa guna memperluas dampak edukasi mengenai ekonomi hijau dan nilai ekonomi karbon di Sumatera Selatan.

Workshop Ekonomi Karbon Dorong Sumsel Tancap Gas Menuju Transisi Energi Berkeadilan. (8/1/2026)

Foto: RedaksiKNC/Ist. | Kontributor: DDO | Editor: ARPAN

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *