PALEMBANG, KNC.– Seminar budaya dalam rangkaian “Ramadan Berkah” yang digelar Perkumpulan Zuriat Masagus-Masayu Palembang Darussalam (PZMMPD) digelar pada bakda Zuhur di Masjid Al Fathul Akbar, Senin (23/2/2026). Jalan Gubernur H. Bastari, Jakabaring, itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan sejarawan, budayawan, hingga pemerintah daerah.
Sejarawan Palembang, Dr. Kemas Ari Panji, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa tradisi gelar kebangsawanan berakar dari sejarah Kesultanan Palembang Darussalam. Meski sistem pemerintahan kesultanan telah lama berakhir, jejaknya masih hidup dalam bentuk gelar yang melekat pada sejumlah keluarga di Palembang.
Menurut dia, sistem pewarisan gelar berlangsung secara patrilineal atau melalui garis keturunan ayah. Anak hanya mewarisi gelar dari pihak ayah, sementara gelar dari ibu tidak otomatis diturunkan.
“Gelar itu merupakan penanda asal-usul dan garis keturunan, bukan simbol kelas sosial. Dalam konteks Palembang, ini bukan sistem kasta,” ujarnya.
Ia memaparkan, pada masa awal kesultanan, Sultan Abdurahman menggunakan gelar “Kimas” yang dalam perkembangan pelafalan masyarakat berubah menjadi “Kemas”. Perubahan tersebut terjadi secara alamiah seiring dinamika bahasa.
Selain itu, ia menambahkan, pada periode kesultanan tidak ditemukan penggunaan gelar “Raden” oleh sultan. Gelar tersebut baru dikenal pada masa setelah Sultan Abdurahman dan digunakan oleh generasi berikutnya. Hal itu menunjukkan bahwa gelar kebangsawanan pun mengalami transformasi sesuai perkembangan sosial dan politik.
Dalam konteks kekinian, gelar kebangsawanan lebih bersifat simbolik dan kultural. Ia tidak lagi berkaitan dengan hak politik maupun kedudukan formal, melainkan menjadi bagian dari identitas sejarah keluarga.
Seminar juga menyoroti pentingnya revitalisasi bahasa daerah, khususnya ragam halus bahasa Palembang atau “bebaso”.
Kasi Pendidikan Dinas Pendidikan Kota Palembang, Zulkarnain, mengatakan pihaknya telah menetapkan satu hari dalam sepekan sebagai Hari Bebaso di sekolah dasar dan menengah pertama. Setiap Kamis, siswa didorong menggunakan bahasa Palembang dalam interaksi di lingkungan sekolah.
Namun, ia mengakui implementasinya belum optimal. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan pemahaman terhadap struktur bahasa bebaso yang lebih kompleks dibanding bahasa sehari-hari.
“Fokus kami saat ini membangun keberanian siswa untuk berbicara terlebih dahulu. Soal tata bahasa bisa diperbaiki bertahap agar mereka tidak kehilangan rasa percaya diri,” katanya.
Budayawan Palembang, RM Ali Hanafiah, menambahkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan antara bahasa, tradisi, dan warisan material seperti kain songket serta adat istiadat lokal. Ketiganya, kata dia, membentuk jati diri masyarakat Palembang.
Sementara itu, Ketua Umum PZMMPD, Mgs H. Syaiful Padli, ST, MM, mengatakan kegiatan Ramadan Berkah menjadi wujud komitmen organisasi yang berdiri pada 2021 tersebut dalam memperkuat peran sosial sekaligus menjaga warisan budaya.
Selama sekitar 20 hari pelaksanaan, panitia tidak hanya menggelar bazar Ramadan, tetapi juga berbagai lomba dan kegiatan edukatif bagi anak-anak, mulai dari hafalan Asmaul Husna, sambung ayat, lomba mewarnai, hingga seminar budaya.
Foto: RedaksiKNC | Kontributor: DDO | Editor: ARPAN
















