Tugu Cempako Telok: Simbol Kota, Ingatan Kolektif, dan Filosofi Palembang.

  • Bagikan
banner 468x60

Tugu

Pembuatan Tugu Cempaka Telok Palembang pada akhir tahun 2025 oleh Perkimtan / Pemerintah kota Palembang

 

Example 300x600

Di jantung Kota Palembang, pada simpul jalan yang tak pernah benar-benar lengang, berdiri sebuah penanda kota yang wajahnya boleh berganti, tetapi maknanya terus hidup dalam ingatan warganya: Tunggu Cempako Telok, kawasan yang lebih dikenal sebagai Bundaran Air Mancur Masjid Agung Palembang.

Bagi orang Palembang, tempat ini bukan sekadar persimpangan lalu lintas. Ia adalah ruang ingatan, titik temu, sekaligus cermin bagaimana kota ini memaknai dirinya dari masa ke masa.

Air Mancur dan Awal Wajah Kota Modern

Air mancur telah lama menjadi bagian dari lanskap kota Palembang. Sebagai kota sungai yang tumbuh di tepian Musi, unsur air tidak hanya hadir sebagai elemen alam, tetapi juga sebagai simbol peradaban. Ketika Palembang memasuki fase kota modern, air mancur menjadi penanda ruang publik—melambangkan keindahan, keteraturan, dan kemajuan.

Bundaran Air Mancur Masjid Agung pun lahir sebagai ikon zamannya. Banyak warga Palembang menyimpan kenangan di tempat ini: menunggu kawan, janjian bertemu, atau sekadar melintas menikmati gemerlap cahaya air mancur di malam hari. Dari sini, kota berbicara lewat estetika dan ruang bersama.

Namun, seperti kota itu sendiri, simbol pun tak pernah benar-benar diam.

Dari Air Mancur ke Tugu Kota

Seiring waktu, air mancur digantikan oleh sebuah tugu yang dibangun melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina. Pergantian ini menandai perubahan cara kota menampilkan identitasnya—dari permainan air yang cair menuju monumen yang lebih tegas dan monumental.

Transformasi ini menunjukkan bahwa ruang kota bukanlah entitas statis. Ia terus ditafsir ulang sesuai dengan kebutuhan, selera, dan arah pembangunan pada masanya.

Tugu SEA Games dan Citra Global Palembang

Perubahan berikutnya terjadi ketika Palembang dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games. Tugu di kawasan ini kembali bertransformasi menjadi Tugu SEA Games, membawa semangat internasionalisme dan kebanggaan sebagai kota penyelenggara ajang olahraga Asia Tenggara.

Pada fase ini, Tunggu Cempako Telok merepresentasikan wajah Palembang sebagai kota global—terbuka, percaya diri, dan siap tampil di panggung regional. Simbol-simbol lokal sempat bergeser, digantikan narasi prestasi dan perayaan internasional.

Menariknya, semua perubahan itu terjadi di titik lokasi yang sama. Ruang fisiknya tetap, tetapi pesan yang disampaikan selalu berubah.

Kembali ke Akar: Filosofi dan Kearifan Lokal

Kini, kawasan Bundaran Air Mancur Masjid Agung Palembang kembali dimaknai ulang. Tugu Cempako Telok hadir dengan nuansa kearifan lokal, tidak hanya sebagai elemen estetika, tetapi sebagai simbol nilai dan filosofi hidup masyarakat Palembang Darussalam.

Konsep perancangannya mengusung tema “Adat dipangku, syariat dijunjung”, sebuah sondok piyogo atau falsafah hidup orang Palembang. Prinsip ini menegaskan bahwa adat istiadat dan syariat Islam berjalan seiring, saling menguatkan, dan menjadi fondasi kehidupan sosial, budaya, serta spiritual masyarakat sejak masa lalu hingga kini.

Secara visual, filosofi tersebut diwujudkan melalui tiang yang memangku dulang, dengan bunga Cempako Telok di bagian atasnya. Dulang dimaknai sebagai wadah atau tempat menghimpun—melambangkan Palembang sebagai kota yang menaungi keberagaman etnis dan budaya dalam satu kesatuan masyarakat yang tetap menjunjung adat.

Di puncak struktur, terdapat ornamen Muhammad Betangkup, seni ukir khas Palembang yang lazim ditempatkan di puncak Rumah Limas. Ornamen ini melambangkan sikap menjunjung tinggi syariat Islam sebagai pedoman utama kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, di bagian bawah bundaran terdapat lima bunga Cempako Telok berwarna emas. Ornamen ini mengandung makna historis dan religius: merepresentasikan perjalanan peradaban Palembang dari kejayaan Sriwijaya hingga berkembang menjadi Palembang Darussalam dengan masuknya Islam. Lima bunga tersebut juga dimaknai sebagai simbol lima rukun Islam dan lima waktu salat.

Bunga Cempako Telok sendiri, sebagai flora khas Palembang yang harum dan indah, melambangkan keindahan adat, kesucian hati, serta nilai kemanfaatan bagi sesama. Ia mencerminkan karakter masyarakat Palembang yang menjunjung kebaikan, keharmonisan, dan kebersamaan.

Kota, Ingatan, dan Identitas

Dari air mancur, tugu CSR, Tugu SEA Games, hingga tugu bernuansa lokal hari ini, Tunggu Cempako Telok menjadi arsip terbuka kota. Setiap generasi membacanya dengan ingatan yang berbeda, namun tetap merujuk pada ruang yang sama.

Di tengah laju pembangunan—jalan yang makin padat, gedung yang kian menjulang—tempat ini mengingatkan bahwa kota bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal ingatan dan identitas.

Selama orang Palembang masih berkata, “kito ketemuan di Cempako Telok,” maka tempat itu akan tetap hidup. Apa pun wajah yang dikenakannya, ia akan selalu menjadi penanda bahwa adat dan syariat, masa lalu dan masa kini, berjalan beriringan di jantung Kota Palembang.(Diolah dari rilis resmi Tim 11+)


Palembang, 1 Januari 2026

Dr. Kemas A. R. Panji, M.Si
Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang dan Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palemban

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *