Internemezo — Peminat & Pemerhati Sejarah di Grup Sejarawan

PALEMBANG, KNC.– Dalam percakapan hangat di Grup WA MSI Sumsel. Senin, 8 Desember 2025. Beredar sebuah foto arsip menarik tiba-tiba menjadi pemantik diskusi. Pustakawan Sumsel, Ahmad Subhan, membagikan dokumentasi langka berupa potongan koran Batanghari Sembilan terbitan 18 Oktober 1960. Tajuk yang dibahas pada lembaran lawas tersebut mengisahkan tentang fenomena musik “ngak ngik ngok” dan suasana “hot” yang terjadi di lingkungan Universitas Sriwijaya pada masa itu—tepatnya 65 tahun yang lalu.
Dr. Kemas A.R. Panji—sejarawan dan akademisi—menilai bahwa temuan ini sangat penting. Bukan sekadar nostalgia musik, tetapi bukti otentik yang membuka kembali peristiwa 18 Oktober 1960. Dari dokumen tersebut, kini semakin jelas bahwa:
- Universitas Sriwijaya telah menjadi pusat dinamika pemuda sejak awal berdirinya.
- Balai Pertemuan menjadi ruang ekspresi dan kegiatan.
- Keterlibatan organisasi mahasiswa seperti HMI
- Disebutkannya tokoh-tokoh penting dalam pemberitaan
- Arsip media lokal Batanghari Sembilan menjadi sumber sejarah berharga.
- Dan menariknya, sudah ada prangko berlangganan koran pada masa itu—menegaskan budaya literasi yang kuat.

Bung Karno vs Musik Barat
Diskusi makin seru ketika pecinta sejarah Ramon, SH., ikut memberi konteks bahwa era tersebut berada di bawah kebijakan budaya Presiden Soekarno yang menolak keras pengaruh budaya Barat, terutama musik Rock n Roll dan fenomena The Beatles yang tengah mendunia.
“Banyak piringan hitam The Beatles yang dihancurkan,” ujarnya.
Soekarno lebih mendorong musik berakar budaya Nusantara seperti lenso dan gamelan Jawa.
Larangan itu juga berimbas pada band legendaris Koes Bersaudara—yang kemudian dikenal sebagai Koes Plus—karena gaya bermusiknya dianggap terlalu Barat. Mereka sempat dijebloskan ke penjara Glodok pada 1965 hanya karena memainkan lagu-lagu beraliran “ngak ngik ngok”.
“Saya tidak suka musik ngak-ngik-ngok!”
Jurnalis sejarah Dudy Oskandar turut menambahkan kutipan terkenal Bung Karno yang mempertegas sikap kebijakan budayanya:
“Saya tidak suka musik ngak-ngik-ngok itu! Musik yang hanya meniru-niru Barat. Indonesia harus punya musik berkepribadian sendiri.”
Kutipan itu menggambarkan konflik ideologis antara ekspresi pemuda dan politik identitas bangsa yang bergolak pada awal 1960-an.
Serpihan Arsip, Jejak Dinamika Anak Muda
Percakapan singkat tersebut justru memperlihatkan satu hal penting:
arsip dan data visual seperti koran lawas mampu menghidupkan kembali cerita sejarah yang hampir terlupakan.
Universitas Sriwijaya bukan hanya institusi pendidikan, tetapi wajah pergulatan budaya, politik identitas, dan cita-cita revolusi pada zamannya. Musik menjadi salah satu panggung benturan itu.
Dan kini, lewat sebuah foto koran berusia lebih dari enam dekade…
kita dibawa kembali ke riuh pemuda Palembang yang sedang mencari gaya, jati diri, dan arah peradaban.
(Palembang, 8 Desember 2025)
By: Ari Panji, dkk. | Editor: ARPAN. | Foto: Ahmad Subhan.
















