👇 PALEMBANG, KNC.– Rencana pembangunan gedung baru RS dr. AK Gani setinggi tujuh lantai di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) memicu penolakan dari Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam dan masyarakat pemerhati sejarah. Proyek yang akan dibiayai melalui Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) dari Pemprov Sumsel sebesar Rp53 miliar pada 2026 itu dinilai mengancam keberlangsungan kawasan cagar budaya terpenting di Palembang.
Sebagai tindak lanjut atas aspirasi tersebut, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A menggelar audiensi bersama zuriat Kesultanan, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang, AMPCB, Aliansi Penyelamat BKB, Tim Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang (Tim 11), sejarawan, serta budayawan. Pertemuan berlangsung di ruang tamu Pangdam II Sriwijaya, Rabu (10/12/2025).
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo menegaskan bahwa BKB harus dikembalikan sebagai kawasan heritage dan simbol sejarah pertahanan Kesultanan Palembang.
“Kami ingin BKB dimanfaatkan sesuai nilai heritagenya. Aksi 12 Desember nanti bukan hanya soal penolakan gedung tujuh lantai, tapi dorongan percepatan revitalisasi BKB,” ujar SMB IV.
Sultan juga berharap pemerintah daerah memiliki good will dalam proses relokasi rumah sakit tersebut.
“Ini tentang masa depan warisan sejarah Palembang,” tambahnya.
Budayawan AMPCB, Vebri Al Lintani, menjelaskan bahwa Pangdam mengapresiasi gerakan penyelamatan BKB dan mendukung pemanfaatan sebagian kawasan sebagai pariwisata sejarah. Meski begitu, ia menegaskan Aliansi tetap menolak keberadaan gedung bertingkat yang dinilai melampaui batas zona cagar budaya berdasarkan keputusan pemerintah dan kajian arkeologi.
“Revitalisasi tidak bisa setengah-setengah. Kebijakan harus datang dari pemerintah pusat karena BKB merupakan aset Kemenhan,” tegasnya.
Sejarawan TACB Kota Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, menyayangkan pembangunan gedung baru RS tersebut yang disebut tidak selaras dengan upaya pelestarian.
“Pengembangan RS lebih tepat di lokasi lain. BKB harus diakses publik sebagai kawasan sejarah dan wisata budaya,” katanya.
Akademisi Prof. Dr. Farida R. Wargadalem serta pemerhati sejarah Raden Alex Sandi juga mendukung relokasi fasilitas kesehatan di luar area heritage demi menjaga orisinalitas BKB.
Pangdam Tegaskan Komitmen Melestarikan BKB
Mayjen TNI Ujang Darwis menegaskan Kodam II/Sriwijaya berkomitmen merawat serta melestarikan kawasan Benteng Kuto Besak sebagai situs sejarah penting di Sumatera Selatan.
“Kodam II/Sriwijaya akan menjaga dan merawat Cagar Budaya BKB,” tegas Pangdam.
Ia juga menyampaikan rencana penataan kawasan agar lebih bermanfaat secara publik tanpa menghilangkan kekuatan nilai historisnya.
Foto: RedaksiKNC | Kontributor: DDO | Editor: ARPAN

















