Bedah Buku “Perang Kota 120 jam” Warnai Langkah Awal KCFI Sumsel Pasca Pelantikan.

  • Bagikan
banner 468x60

PALEMBANG, KNC — Baru sehari setelah resmi dikukuhkan oleh Pengurus Pusat, Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Provinsi Sumatera Selatan langsung tancap gas dengan menggelar kegiatan bedah buku “Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang”. Acara ini berlangsung di Ruang Mahameru Hotel Swarna Dwipa Palembang, Sabtu (29/11/2025) sore.

Kegiatan tersebut menjadi agenda perdana KCFI Sumsel usai pelantikan yang berlangsung di Ruang Bina Praja. Momentum ini sekaligus menunjukkan komitmen KCFI untuk memperkuat fondasi literasi sejarah sebagai basis lahirnya karya-karya film lokal.

Example 300x600

Potensi Film Sejarah Sumsel Sangat Besar

Ketua Umum KCFI Pusat, Budi Sumarno, dalam pemaparannya menegaskan bahwa Sumatera Selatan menyimpan sumber cerita yang kaya untuk dikembangkan menjadi film dokumenter maupun film cerita.

> “Sumsel memiliki kekuatan naratif berbasis sejarah dan budaya. Kisah heroik ini bisa digarap oleh sineas-sineas muda di Palembang dan daerah lainnya,” ujarnya.

Kegiatan bedah buku yang digelar pukul 14.00–17.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh Fitriana, S.Sos., M.Si, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel.

Sejumlah tokoh penting hadir sebagai pembedah buku, di antaranya:

unsur Forkopimda Sumsel,

H. Asmarullah Mangku Alam — keluarga pejuang.

LVRI, Kota Palembang dan Sumatera Selatan.

Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd., Ph.D — sejarawan Sumsel,

Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si — akademisi dan sejarawan Palembang,

Budi Sumarno — Ketua Umum KCFI Pusat,

Adisurya Abdy — produser & sutradara,

Bernhard Uluan Sirait — Director of Photography (DoP).

Acara dipandu oleh Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum, jurnalis sekaligus pelaku seni teater Palembang.

 

Merawat Memori Kolektif Lewat Film

Ketua KCFI Sumsel, Suterisne, S.E. (Yosef), mengingatkan pentingnya memahami sejarah agar bangsa tidak kehilangan pijakan.

> “Bangsa yang terputus dari sejarahnya akan rapuh,” ujarnya, merujuk pemikiran Ibnu Khaldun.

 

Ia menilai bahwa peristiwa Perang Kota 120 Jam merupakan momentum bersejarah yang layak ditransformasikan ke medium film.

> “Menghidupkan kembali kisah 120 jam melalui film adalah cara kita menjaga akar sejarah agar tetap kuat,” tegasnya.

Titik Awal Kebangkitan Perfilman Sumsel

KCFI Sumsel memandang kegiatan bedah buku ini sebagai langkah awal menuju kebangkitan ekosistem film daerah.

Yosef menegaskan bahwa setelah pengukuhan, KCFI akan memperkuat kolaborasi dengan komunitas film, pemerintah, seniman, akademisi, dan pemangku kebijakan lainnya.

> “Ini bukan sekadar pelantikan organisasi, tapi momentum untuk melahirkan film-film tentang tanah kita. Kami mengajak semua bergerak bersama,” katanya.

Ia berharap kegiatan ini menginspirasi sineas muda Sumsel untuk lebih aktif menggali sejarah daerah sebagai bahan karya kreatif.

KCFI Sumsel turut menyampaikan apresiasi kepada panitia, komunitas film, media, serta seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

 

Foto: KCFI Sumsel

Editor: ARPAN

Kontributor: ARI

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *