Budayawan dan Sejarawan Sumsel Soroti Minimnya Kajian Tentang Karya Sastra SMB II

  • Bagikan
Naskah Syair Sinyor Kosta karya SMB II
banner 468x60

Para Narasumber dipandu oleh host memberikan uraikan paparannya dalam Diskusi Sastra untuk Komunitas yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Palembang melalui program Museum Keliling, Kamis (20/11/2025) sore di Rumah Sintas, Jalan Jambu, depan Masjid Maghfiroh Palembang.

 

Example 300x600

 

PALEMBANG KCN. –  Minimnya kajian dan perhatian terhadap karya sastra peninggalan Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) mendapat sorotan serius dari para budayawan dan sejarawan Sumatera Selatan. Hal ini mengemuka dalam Diskusi Sastra untuk Komunitas yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Palembang melalui program Museum Keliling, Kamis (20/11/2025) sore di Rumah Sintas, Jalan Jambu, depan Masjid Maghfiroh Palembang.

 

Karya SMB II Lebih Banyak Dikaji di Malaysia

Budayawan Sumatera Selatan Vebri Al Lintani menjadi tokoh pertama yang menyoroti rendahnya minat masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan terhadap karya sastra SMB II. Padahal, menurutnya, sejumlah karya penting yang diyakini berasal dari sang sultan telah lama mendapatkan tempat khusus dalam kajian sastra di luar daerah dan luar negeri, terutama di Malaysia.

 

“Di Malaysia, Syair Burung Nuri sudah masuk sebagai bahan pembelajaran sastra di tingkat sekolah menengah. Ironisnya, di Palembang sendiri, karya-karya itu justru jarang disentuh,” ujar Vebri.

 

Ia menjelaskan bahwa Syair Burung Nuri, karya paling populer yang dikaitkan dengan SMB II, mengisahkan cinta terlarang antara tokoh Nuri dan Simbangan—yang menurutnya merefleksikan pengalaman pribadi sang sultan saat diasingkan Belanda jauh dari tanah kelahirannya.

 

Vebri juga menyinggung karya-karya lain seperti Syair Hikayat Martalaya, Syair Sinyor Kosta, hingga Syair Perang Palembang atau Syair Perang Menteng, yang menurut sebagian ahli memiliki keterkaitan kuat dengan SMB II. Sejarawan Taufik Abdullah bahkan pernah menyebut bahwa penulis syair tersebut “pasti seorang yang cerdas dan memahami konteks sejarah Palembang secara mendalam.”

 

Menurut Vebri, situasi ini memperlihatkan ironi besar.

“Kita punya banyak hal yang memakai nama Sultan Mahmud Badaruddin II—bandara, museum—tapi perhatian pada karya sastranya sangat minim. Pojok sastra di museum saja hampir tidak ada,” ujarnya.

 

Ia berharap pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas kreatif dapat memberikan perhatian lebih besar agar warisan sastra SMB II kembali hidup dan dikenal generasi muda.

 

Era SMB II: Masa Keemasan Intelektual Kesultanan Palembang

Sorotan lainnya datang dari sejarawan UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si., yang menjelaskan secara historis perkembangan kesusastraan pada masa pemerintahan SMB II.

 

Menurutnya, awal abad ke-19 adalah masa keemasan intelektual Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa itulah keraton menjadi pusat produksi naskah yang sangat aktif.

 

“Penyalinan, penyusunan, hingga pengajaran karya sastra berlangsung intensif. Bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi) menjadi medium utama pengembangan keilmuan Islam di Palembang,” jelas  Ari Panji.

 

Dr. Kemas A.R. Panji. yang akrab disapa Ari Panji adalah Sejarawan dan anggota TACB Kota Palembang tersebut menyebut bahwa pada masa SMB II (1803–1821) berkembang berbagai naskah penting, baik yang bersifat keagamaan seperti fikih dan tasawuf, maupun karya naratif seperti hikayat dan syair yang sarat nilai moral dan perlawanan kolonial.

 

Beberapa karya yang menonjol antara lain Syair Perang Menteng, Hikayat Martalaya, Syair Sinyor Kosta, serta Syair Burung Nuri — yang ditulis langsung oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Karya-karya ini menggunakan media tulis khas seperti kertas Eropa, kertas daluang, hingga bilah bambu gelumpai, dengan tinta hitam-merah dan gaya syair empat baris yang rapi.

 

“Kesusastraan era SMB II adalah gambaran ledakan kreativitas, ilmu pengetahuan, dan kesadaran politik masyarakat Palembang. Karya-karya itu adalah cermin zaman yang tetap relevan untuk diskusi modern,” katanya.

 

Ari Panji juga menegaskan bahwa banyak naskah kuno tersebut kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia, koleksi Leiden di Belanda, maupun arsip lokal. Namun sebagian besar kajiannya justru lebih dominan dilakukan oleh peneliti luar negeri.

 

 

Harapan agar Warisan Sastra SMB II Lebih Diperhatikan

Baik Vebri Al Lintani maupun Dr. Kemas A.R Panji sepakat bahwa warisan sastra SMB II harus dipulihkan, dikaji, dan diperkenalkan kembali, terutama kepada generasi muda di Palembang dan Sumatera Selatan.

 

“Karya-karya SMB II bukan hanya kebanggaan sejarah, tetapi bukti kecerdasan dan kedalaman budaya Palembang. Diskusi seperti hari ini harus terus dilakukan dan diperluas melalui berbagai platform media,” ujar keduanya. (ARPAN)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *