Buku Warisan Budaya Palembang karya Leni Mastuti, M.Hum., resmi dilaunching kepada publik bersamaan dengan penyelenggaraan workshop di Aula Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam. Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Sultan Palembang Darussalam SMB IV dan sejarawan Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si. Minggu (16/10/2025).
Sultan Palembang jadi Pembicara Utama
Sultan Palembang, dalam pemaparannya, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja menekankan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas budaya dan sejarah. Menurutnya, sebagian besar informasi sejarah yang digunakan masyarakat masih bersumber dari catatan kolonial.
“Sekitar 70 hingga 80 persen sejarah kita masih ditulis berdasarkan perspektif kolonial. Karena itu, narasi perlu diluruskan kembali berdasarkan pandangan kita sendiri,” ujarnya.
SMB IV menjelaskan bahwa narasi sejarah sering dibentuk oleh pihak yang dominan dalam suatu konflik atau peristiwa. Hal ini, katanya, menyebabkan banyak rekaman sejarah tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Ia mencontohkan sejumlah narasi, baik pada tingkat lokal maupun internasional, yang dinilai mengalami distorsi. Menurutnya, sejumlah catatan kolonial bahkan sengaja membuat Palembang tampak berada pada posisi yang salah dalam berbagai konflik seperti penyerangan Banten dan pertentangan dengan Inggris.
“Tidak jarang sejarah kita ditampilkan secara negatif karena kepentingan ekonomi dan politik kolonial. Padahal, fakta lapangan dan sumber primer memperlihatkan hal berbeda,” tegas Sultan.
Sejarawan Sumsel, Kemas A.R. Panji: Manuskrip Kuno Adalah Sumber Primer yang Tak Tergantikan
Sejarawan Dr. Kemas A.R. Panji menjelaskan bahwa manuskrip lama merupakan warisan penting Kesultanan Palembang Darussalam yang harus dijadikan rujukan utama dalam penelitian sejarah.
Ia mengapresiasi terbitnya buku karya Leni Mastuti ini dan mendorong lebih banyak akademisi maupun masyarakat umum untuk menulis buku sejarah.
“Semakin banyak yang menulis, semakin kecil peluang narasi sejarah kita dibelokkan,” ujarnya.
Perjuangan Penulis Buku Warisan Budaya Palembang
Leni Mastuti mengungkapkan bahwa proses penyusunan buku memakan waktu tiga bulan, mulai Agustus hingga Oktober 2025. Tantangan terbesar, katanya, adalah proses alih aksara (transliterasi) dari dokumen-dokumen berusia ratusan tahun.
“Sebagian naskah sudah mengalami kerusakan, dan banyak yang ditulis menggunakan aksara Jawi atau Melayu. Ini membutuhkan ketelitian ekstra,” jelasnya.
Dalam buku ini, Leni mengolah tiga naskah utama yang masing-masing memiliki alur dan gaya penulisan berbeda. Ketiganya dibandingkan, dipadukan, dan diselaraskan untuk menyusun gambaran utuh sejarah Kesultanan Palembang.
“Setiap naskah punya detail yang spesifik. Tantangannya adalah menyatukan potongan-potongan sejarah itu menjadi satu alur yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar lulusan Magister Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah tersebut.
Se

Ajak Generasi Muda Melek Manuskrip
Leni menegaskan bahwa manuskrip kuno adalah aset sejarah yang sangat penting. Menurutnya, masih banyak generasi muda yang belum mengetahui nilai besar dari naskah-naskah klasik.
“Naskah lama bukan sekadar tulisan tua. Di dalamnya tersimpan identitas, pengetahuan, dan jejak sejarah leluhur kita,” katanya.
Ia berharap buku ini dapat membuka mata masyarakat bahwa sejarah Palembang tidak hanya berasal dari tradisi lisan, tetapi juga dari dokumen tertulis yang kaya informasi.
“Jika kesadaran ini tumbuh, maka sejarah Kesultanan Palembang tidak akan hilang ditelan zaman, tetapi tetap hidup sebagai identitas budaya kita,” tambahnya.
Pada akhir kegiatan, panitia membagikan buku Warisan Budaya Palembang: Sejarah Kesultanan Palembang dalam Naskah Kuno kepada peserta yang hadir sebagai bentuk apresiasi dan dorongan untuk terus melestarikan sejarah Palembang. (ARPAN)
















