PALEMBANG, KCN. — Polemik soal di mana sebenarnya pusat Kedatuan Sriwijaya berada kembali memanas! Setelah pernyataan mengejutkan dari arkeolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, yang menyebut Sriwijaya berpusat di Jambi, para sejarawan Sumatera Selatan langsung angkat suara — dan dengan tegas mematahkan klaim tersebut.
Dalam forum ilmiah yang digelar di Palembang, tiga sejarawan terkemuka Sumsel yakni Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, Dr. Dedi Irwanto, M.A, dan Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si sepakat bahwa Palembang-lah pusat awal Kedatuan Sriwijaya, bukan Jambi.
“Ada tiga prasasti utama yang tidak bisa dibantah: Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu. Semua ditemukan di Palembang dan semuanya menandai aktivitas pemerintahan Sriwijaya. Itu fakta sejarah, bukan opini,” tegas Prof. Farida R. Wargadalem, sejarawan Universitas Sriwijaya.,
Menurutnya prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 682 Masehi mencatat perjalanan suci Siddhayatra Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang menandai berdirinya Kedatuan Sriwijaya di Palembang. Sedangkan Prasasti Telaga Batu menggambarkan struktur pemerintahan lengkap dari pejabat tinggi hingga bawahannya — bukti kuat bahwa pusat kekuasaan berada di lokasi tersebu
Lebih lanjut, Prof. Farida juga menyinggung bahwa temuan Prasasti Baturaja dan situs-situs di wilayah Ogan Komering Ulu menunjukkan aktivitas politik dan keagamaan Sriwijaya yang luas di Sumatera bagian selatan.
“Kalau bicara Sriwijaya, ya bicara Palembang. Jambi, Lampung, dan Bangka hanyalah bagian dari wilayah kekuasaan Sriwijaya,” tegasnya.
💬 “Sriwijaya Itu Palembang, Bukan Jambi!” — Tegas Dr. Dedi Irwanto
Senada, Dr. Dedi Irwanto, M.A, Ketua Pusat Kajian Sejarah Sumatera Selatan (Puskass) menilai teori Jambi sebagai pusat Sriwijaya tidak didukung bukti kuat.
“Prasasti-prasasti Sriwijaya semuanya berakar di Palembang. Bahkan temuan artefak di dasar Sungai Musi — arca, keramik, dan koin kuno — memperlihatkan peradaban besar di kota ini sejak abad ke-7,” ujarnya.
Dedi juga menegaskan, Candi Muara Jambi yang disebut Prof. Agus sebagai bukti Sriwijaya di Jambi justru berasal dari abad ke-11 hingga ke-14, jauh setelah masa kejayaan Sriwijaya.
“Candi Muara Jambi itu peninggalan belakangan. Tidak ada prasasti yang menyebutnya sebagai pusat kerajaan,” kata Dedi menohok.
🗣️ Dr. Kemas A.R. Panji: “Klaim Jambi Harus Ditinjau Ulang, Secara Ilmiah!”
Sementara itu, Dr. Kemas A.R. Panji dari UIN Raden Fatah Palembang menilai klaim Jambi lebih bersifat klaim daerah daripada hasil kajian ilmiah.
“FGD yang dilakukan di Jambi itu seolah ingin menggeser sejarah. Padahal, penelitian ilmiah terdahulu sudah menetapkan Palembang sebagai pusat Sriwijaya. Kita tidak boleh membiarkan sejarah dipelintir,” tegasnya.
Kemas menambahkan, meski banyak situs di Palembang rusak karena faktor alam dan pembangunan, namun bukti tertulis tetap menunjukkan Palembang sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya pada masa awal.
“Prasasti abad ke-7 itu ditemukan di Palembang, bukan di Jambi. Bukti tertulis jauh lebih kuat dari spekulasi arkeologis,” ujarnya.
⚔️ Latar Polemik: Klaim Prof. Agus dari UI Panaskan Dunia Sejarah
Sebelumnya, dalam Seminar Nasional “Kedigdayaan Melayu Jambi”, arkeolog Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari UI menyampaikan teori baru yang menyebut ibu kota Sriwijaya berada di kawasan Muara Jambi.
Menurutnya, tidak adanya candi besar di Palembang menunjukkan bahwa wilayah ini bukan pusat pemerintahan, melainkan daerah yang ditaklukkan Sriwijaya.
Namun pandangan itu langsung menuai reaksi keras dari kalangan akademisi Sumsel.
“Bukti-bukti prasasti dan temuan arkeologi jelas menunjukkan Palembang adalah pusat Sriwijaya. Klaim Jambi hanya mengaburkan sejarah sebenarnya,” tutup Kemas. (Dudy)

















